02 November 2010

Arti Orientalis

Dari segi bahasa orientalisme berasal dari kata orient yang artinya Timur. Secara etimologis orientalisme bermakna bangsa-bangsa di Timur, dan secara geografis bermakna hal-hal yang bersifat Timur, yang sangat luas ruang lingkupnya. Orang yang menekuni dunia ketimuran ini di sebut orientalis. Orientalisme adalah gagasan pemikiran yang mencerminkan berbagai kajian tentang Negara-negara timur islam. Objek kajiannya meliputi peradaban,agama,seni,satra,bahasa dan kebudayaan. Gagasan pemikiran ini telah memberikan kesan yang besar dalam membentuk persepsi Barat terhadap Islam dan dunia Islam. Caranya ialah dengan menyebarkan kemunduran cara berfikir dunia Islam dalam pertarungan peradaban antara Timur (Islam) dengan Barat.
Menurut Edwar Said, orientalisme bukan sekedar wacana akademis tetapi juga memiliki akar-akar politis, ekonomis, dan bahkan relijius. Secara politis, penelitian, kajian dan pandangan Barat tentang dunia oriental bertujuan untuk kepentingan politik kolonialisme Eropa untuk menguasai wilayah-wilayah muslim. Dan kolonialisme Eropa tak bias lain bekaitan dengan kepentingan ekonomi dan sekaligus juga kepentingan keagamaan tegasnya penyebaran agama yang mereka anut. Ketiga kepentingan yang saling terkait satu sama lain ini tersimpul dalam slogan yang sangat terkenal tentang ekspansi Eropa ke kawasan Islam, yang mencakup 3G yakni Glory, Gold, Gospel : kejayaan, kekayaan ekonomi dan penginjilan. Semua motif dan kepentingan orientalisme ini secara impilist juga bersifat rasis. Dan ini tercermin dalam slogan misi pembudayaan terhadap dunia Timur yang terbelakang.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) on-line, orientalis diartikan : ahli bahasa, kesusastraan, dan kebudayaan bangsa-bangsa Timur (Asia).
Jika ditilik dari sumber bahasa Arab, asal kata ”orientalisme” adalah al-istisyraaq mashdar dari fiil: istasyraqa. Artinya, ”Mengarah ke Timur dan memakai pakaian masyarakatnya.” Para orientalis (al-mustasyriqun) mendalami bahasa-bahasa Timur sebagai langkah untuk mengarah kesana. Mereka mempelajari satu atau bermacam-macam bahasa Timur, seperti bahasa Arab, Bahasa parsi, bahasa Ibrani, bahasa Urdu, bahasa Indonesia, Melayu, Cina dan lain-lain. Selanjutnya mereka mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, kepercayaan, budaya, sastra, dan kesenian yang dimiliki oleh masyarakat pengguna bahasa tersebut.
SEJARAH
Hassan Hanafi dan Garis Besar Pemikirannya
Hassan Hanafi dilahirkan apda tahun 1935 dari kerurunan barbar dan badui Mesir. Memperoleh gelar doktor di Sorbonne University, Perancis, pada tahun 1966; sekembalinya ke Mesir ia menjadi guru besar flsafat pada departemen Filsafat, Universitas Kairo. Di samping itu Hassan Hanafi pernah mengajar, sebagai guru besar tamu, di Belgia (1970), Amerika Serikat (1971-1975), Kuwait (1979), Maroko (1982-1984), Jepang (1984-1985), dan Uni Emirat Arab (1985). Ia juga pernah menjadi konsultan akademik pada United Nations Universty di Tokyo (1985-1987).8
Hassan Hanafi menguasai baik tradisi pemikiran Barat, dan demikian juga dengan tradisi pemikiran Islam. Dengan kemampuan intelektualnya itu, ia berusaha merekonstruksi pemikiran Islam ke arah yang dapat membebaskan kaum Muslimin dari segala bentuk penindasan. Hasil rekonstruksi pemikiran Islam itulah yang disebutnya Al-Yasar al-Islami (Kiri Islam). Jurnal yang diterbitkannya untuk menyebarluaskan gagasannya, juga dibeinama yang sama. Meskipun hanya sempat terbit sekali, yakni pada Januari 1981, namun kemunculannya yang sekilas itu tidakdapat menghapus begitu saja makna kehadiran ide Kiri Islam itu dalam khazanah intelektual Islam.
Secara garis besar, pemikiran Hassan Hanafi terngkum dalam proyek besar yang sedang dibangunnya, yaitu Al-Turast wa al-Tajdid (Tradisi dan Pmebaharuan).9
Proyek peradaban yang dicanangkan oleh Hanafi ini mempunyai tiga concern, yaitu: pertama, sikap diri terhadap tradisi klasik; kedua, sikap terhadap tradisi Barat ; dan ketiga ,sikap terhadap realitas. Untuk memberikan gambaran sekilas mengenai ketiga concern dari proyek peradaban itu, berikut ini dikemukakan kutipan panjang dari Hanafi : 10 ” Proyek peradaban yang sedang saya bangun adalah ‘tradisi dan modernitas ‘ atau dalam bahasa Arab di sebut al-turats wa al-tajdid. Proyek ini mempunyai tiga concern utama. Pertama adalah rekonstruksi teks yang dilahirkan dari peradaban masa lalu. Kita mempunyai tradisi lama yang selalu dan tetap hidup dalam diri kita. Pada saat yang sama kita berada dalam era modern yang serba baru. Kita berusaha untuk berubah, untuk tidak dikuasi dan bebas. Sementara tradisi lama sudah tidak cocok lagi buat kita. Rekonstruksi teks artinya membangun kembali ilmu-ilmu tradisional seperti filsafat, teologi, figih, tafsir, al-quran dan hadits, dengan menganggap peninggalan tersebut sebagai sesuatu yang berubah-ubah dan bersifat historis, agar dengan begitu kita dapat mengapresiasikan modernitas. Di samping itu, saya melihat bahwa alternatif selalu berubah. Saya tidak menemukan alternatif yang lebih baik dalam tradisi ; dalam Asy’ariyah, Mu’tazilah, Averoisme, atau Malikiyah. Karenannya, kemudian saya membuat alternatif sendiri.
Kedua, tentang budaya-budaya asing, terutama budaya Barat. Saya berhadapan dengan Barat dan terserap di dalamnya tanpa saya sadari. Saya adalah korban mitos ‘budaya universal’ yang dipropagandakan dan terus didominasi oleh media Barat, belajar dari Barat yang semuanya membuat saya menjadi inferior komplek; karena saya berasal dari masyarakat yang jumud. Dasri sini saya mencanangkan untuk dekolonisasi diri dan membuat suatu level peradaban yang sama. Selanjutnya,saya berusaha mengembalikan budaya Barat kepada batasan geografisnya semula, menyudahi mitos ‘budaya universal. Saya mau mengubah peneliti - yaitu Barat - menjadi obyek yang diteliti. Kalau dulu saya menjadi obyek kajian dalam orintalisme, maka kini saya harus menjadi pengkaji dalam oksidentalisme. Dari sini, saya baru merasa independen dari Barat. Inilah sikap yang kedua itu, yakni mewujudkan oksidentalisme sebagai ganti orientalisme.
Concern saya yang ketiga adalah masalah sikap terhadap realitas atau dunia nyta. Pada sikap pertama dan kedua saya concern terhadap tradisi dan modernitas sebagai warisan budaya (cultural legacy). Karena warisan tersebut termuat di dalam teks, maka saya berinteraksi dengan teks. Ketika menghadapi realitas, saya selalu menghubungkannya dengan sesuatu yang sudash tertulis. Inilah problemnya. Kini, saya ingin membantu nalar orang Arab buat menghadapi teks dan membacanya sebagai sebuah teks yang baru, mendiskusikannya, dasn bukan sekedar menafsirkan -karena usaha ini telah dilakukan pada concern pertama sebelumnya. Pada concern ketiga ini yang dibutuhkan adalah mentranformasikan realitas ke dalam teks; dengan kata lain, ke dalam diskursus rasiolal’.
Untuk proyeknya itu, Hanafi telah menulis beberapa buku yang menyangkut ketiga concern tersebut, seperti : Min al-Aqidah ila al-Tsaurah yang terdiri dari lima jilid, mewakili concern-nya yang pertama ; Muqaddimah fi ‘Ilmal-Istighrab, mewakili concernnya yang kedua ; dan dua karya ilmiahnya ketika ia menyelesaikan program MA dan Ph.D-nya, untuk concer-nya yang ketiga.11
Ketiga concern itu mempresentasikan hubungan dialektis antara subyek diri (al -Ana) dengan “yang lain” (al - Akhar) dalam suatu proses sejarah tertentu. Dengan kata lain, masalah pertama (sikap terhadap tradisi klasik) lebih menekankan pada kesadaran diri dalam melihat tradisi budaya sendiri, yang dalam hal ini merupakan bagian dari sejarah masa lalunya. Yang kedua (sikap terhadap realitas), menyangkut kesadaran diri terhadap realitas kehidupan yang dihadapinya, baik yang berkenaan dengan dirin (al - Ana) maupun Barat (al - Akhar). Dengan karya yang telah dituliskannya itu, khususnya yang berkaitan dengan concern-nya yang kedua, Hasan Hanafi telah melontarkan gagasan dan sekaligus menciptakan sebuah metode “ilmu” baru yang tidak banyak mempunyi referensi sistematik tentang subyek yang berkenaan dengan masalah oksidentalisme.12
C. Oksidentalisme : Respon Hassan Hanafi terhadap Barat
Sebagaimana telah dikemukakan secara sekilas pada bagian terdahulu, bahwa oksidentalisme (al - Istighrab), yang secara harfiah berarti hal - hal yang berhubungan dengan Barat, adalah kajian tentang Barat dari prespektif non - Barat, sebagai lawan orientalisme, kajian tentang Timur dari prespektif Barat. Sebagai istilah yang independent, oksidentalisme jarang dijumpai dalam literatur keislaman modern, bahkan dalam wacana dunia berkembang dalam skop yang lebih besar. Oksidentalisme dalam pengertian seperti itu, memang merupakan gejala baru yang muncul pada masa akhir - akhir ini, dan itupun masih berupa sebuah gaungan ide yang belum diaplikasikan dalam sebuah bentuk dalam sebuah bentuk ilmu yang mapan.
Benar, studi tentang kebaratan sudah dimulai sejak awal era kebangkitan Islam atau dunia ketiga lainnya, tapi studi - studi tersebut masih sarat dengan analisis deskriptif yang sumber utamanya adalah Barat sendiri. Dengan demikina, kajian - kajian semacam itu tidak lebih dari sekadar promosi atau porpaganda buat superioritas Barat. Model seperti ini belum mempresentasikan apa yang dimaksud dengan format oksidentalisme diskursif, yaitu suatu wacana yang melihat dan mengkaji Barat dan non - Barat, seperti para orientalis yang mengkaji Timur dari prespektif mereka. Kjian seperti itulah yang disebut oleh Hassan Hanafi sebagai oksidentalisme “sungsang”.13
Munculnya oksidentalisme pada mulanya hanyalah gagasan yang lebih bersifat reaksi ketimbang sebuah proyek peradaban yang mempunyai tujuan tertentu. Dalam kaitan ini, ada indikasi ketidakpuasan terhadap kajian - kajian Barat dan kebaratan yang sudah ada. Pertama , karena kajian - kajian semacam itu merupakan produk Barat yang notabene tidak bisa lepas dari bias dan subyektivitas. Kedua, kajian semacam itu tidak lebih dari sebuah promosi peradaban orang lain yang kurang (untuk tidak mengatakan kosong) dari kritisisme. Lebih dari sekedar alasan ini, nampak kelahiran oksidentalisme didorong oleh faktor emosional atas kesalahan - kesalahan dari Barat yang dialami dunia Timur pada umumnya dan dunia Islam khususnya. Barat dengan segala implikasinya telah berjaya menguasai Timur. Penguasaan, atau lebih tepatnya kolonialisme, Barat atas Timur ini dalam perjalanan sejarahnya tidak bisa dipisahkan dari orientalisme.14 sehubungan dengan hal ini, Ahmad Sahal mengemukakan :
“Orientalisme adalah konsep Barat mengenai the Otherness dari dunia Timur. Sejak renaissance, Barat menemukan kesadaran humanisme sebagai identitas budaya mereka, sertamerta timbul definisi the Other dari budaya non - Barat. Timur adalah dunia lain karena penuh misteri, eksotik, aneh, bermental pasif, dan seterusnya. Artinya, Timur harus `divisualisasikan`. Proyek sivilisasi lalu menjadi pembenaran ideologis bagi berlangusngnya kolonialisme. Humanisme, orientalisme, dan kolonialisme dalam sejarahnya ternyata berjalan paralel. Tidak heran bila sistem pengetahuan orinentalisme selama berabad - abad menjadi alat kepentingan kolonialisme. Karena, mengetahui Timur identik dengan menguasainya”.15
Hassan Hanafi dengan gagasan oksidentalismenya mencoba membalikan paradigma.16 Ia ingin mewujudkan oksidentalisme sebagai antitesa terhadap orientalisme; dan ini adalah dalam hubungannya dengan masalah kolonialisme. Ia menulis :
“Oksidentalisme adalah lawannya orientalisme. Ilmu ini sangat penting diwujudkan buat masa sekarang, karena Barat untuk kedua kalinya mulai menancapkan lagi kuku kolonialisnya, setelah kolonialisme yang pertama mengimplikasikan munculnya gerakan pembebasan sebagai bangsa.”17
Hassan Hanafi mengklaim bahwa oksidentalisme yang digagasanya itu merupakan ilmu buat masa depan yang berusaha mengubah diskursus Arab - Islam kontemporer dalam mempelajari Barat. Kalau selama ini selalu dominan dan selalu menjadi guru buat Timur, dengan oksidentalisme, Hanafi ingin menjadikan Barat sebagai muridnya Timur.
Dengan demikian, terbentuknya oksidentalisme adalah sebagai upaya untuk mnegikis serangan Westernisasi yang sudah semakin meluas saja wilayah jangkauannya, tidak saja terbatas dalam kehidupan seni dan budaya, melainkan sudah meluas ke dalam tata - cara kehidupan sehari - hari. Westernisasi adalah bagian tak terpisahkan dari alienasi, yaitu saat berpindahnya subyek diri (al -Ana) kepada yang lain (al - Akhar).18 Seseorang yang terbaratkan adalah yang sudah alamiahnya, menjelaskan proporsinya, asal - usulnya, kesesuaiannya dengan situasi kesejahteraan tertentu, jenis religiusitas dan karakteristik masyarakatnya sehingga dapat dihadapkan pada peradaban non - Eropa, untuk memperlihatkan bahwa terdapat banyak model peradaban dan banyak jalan menuju kemajuan.20
Dalam kerangka inilah, Hanafi secara kritis kemuidan “membuka” wajah peradaban Barat dari mulai tumuh sampai berkembang puncaknya. Ketika membuka asal - usul kesadaran Eropa, misalnya, Hanafi menunjukan bahwa usul kesadaran Eropa memang telah menjadi landasan lokal atas watak peradaban Eropa sebagai sebagai pencerminan watak Eropa yang barbarian, materialistik, sensaional, liar, dan rasila. Lingkungan geografis mereka membuat mereka saling berebut sumber daya alam. Utara yang dingin merebut selatan yang sub - tropik, dan mereka mentransformasikan watak kesukuannya itu menjadi perang kolonialisme dan penaklukan ke luar Eropa.21 Berkaitan dengan Ilmu Sosial Barat, Hanafi menjelaskan bahwa semua ilmu sosial politik bukan saja merupakan eksprsesi kesadaran Eropa, tetapi juga ekspresi dari pandangan dunia (weltanschauung) Eropa. Hanafi kemudain menunjukan adanya beberapa mitos yang terdapat dalam ilmu sosial, diantaranya adalah objektifitas, netralitas, dan universalitas.22 Sementara ketika membicarakan humanisme, Hanafi menunjukan, diantaranya, bahwa manusia Eropa adalah manusia ambisius, manusia relatif yang terbatas, manusia individual dan egois, serta manusia sektarian.23 Analisis Hanafi terhadap kesadaran Barat dari mulai munculnya sampai pada masa modern, sebagaimana disebutkan Boulllata, membawanya kepada kesimpulan, bahwa kesadaran Barat dewasa ini berada dalam keadaan kritis, sementara kesadaran Islam muncul untuk mengambil tempatnya ynag sah dalam kepemimpinan dunia, apabila diorientasikan secara tepat.24
Demikianlah telah dikemukakan secara singkat gagasan Hassan Hanafi tentang oksidentalisme. Hanafi nampaknya yakin bahwa ilmu yang akan dibangunnya itu dapat terwujud, lebih - lebih secara historis, Hanafi melihat bahwa praktek oksidentalisme dalam dunia Islam sudah pernah ada, yaitu pada model klasik peradaban Islam vis a vis Yunani kuno. Pada saat itulah umat Islam menjadi subjek yang dnegan leluasannya mengkaji tradisi peradaban Yunani.25
Menurut Hanafi, jika pembentukan ilmu oksodentalimse sudah benar - benar lengkap yang dilakukan oleh generasi - generasi kita kelak, dan telah menjadi sebuah cabang epistomologi yang hampir - hampir menjadi ideologi dunia Timur, saat itulah kita menyaksikan hasil oksodentalisme, yang di antaranya adalah :26
Pertama, penguasaan terhadap tradisi dan budaya Barat, dari masa pembentukan, kegemilangan, hingga keruntuhannya. Dari sini, semua sistem berbalik, dari guru menjadi murid, dan dari subyek menajdi obyek.
Kedua, menyadari bahwa Barat merupakan bagian dari sejarah manusia yang tak terpisahkan, dan tidak seperti yang selama ini menghantui banyak orang, bahwa Eropa berada di luar garsi sejarah (beyond hostory).
Ketiga, mengembalikan tradisi dan budaya Barat ke asal mula, dan mengkahiri apa yang dinamakan perang pemikiran (ghazw al - fikr) dan perang budaya (ghazw al - tsaqafi).
Keempat, menghapuskan mitos “budaya internasional” atau apa yang dinamakan budaya dunia yang selalu digemborkan Barat. Di sini, kita harus mengakui bahwa setiap bangsa mempunyai model dan corak budayanya sendiri, bahwa di sana ada Cina, India, Iran, Arab, Afrika, dan Amerika latin. Selanjutnya terhapuslah `centris` yang selama ini bermuara pada suatu bangsa, untuk kemudian timbul apa yang dinamakan akulturasi (al - tatsaquf).
Kelima, penulisan kembali sejarah, dan meletakan Barat pada proporsi yang sebenarnya.
Keenam, usaha yang lebih aktif untuk meraih kebebasan. Dari sini, logika yang dimainkan oleh orang Timur (Islam) kemudian adalah :”Aku tidak teraliensi, karenanya aku ada” atau “Aku bukan yang lain, karenanya aku ada”. Cogito yang digunakan disini adalah cogito opposite (penolakkan), karena sebenarnya itulah konsep hidup Muslim: memberikan penolakan dahulu baru kemudian menerima, sebagaimana tercermin dalam kalimta syahadat, La ilaha illa Allah.
D. Penutup
Nampaknya, oksidentalisme sebagaimana yang digagas Hassan Hanafi lebih dekat dengan `obsesi` dan harapan - harapan seseorang yang selama ini merasa kecewa dan tidak puas dengan keadaan dunia yang dihadapinya. Issa J. Boullata memberikan penilaian, bahwa proyek peradaban yang ditawarkan Hanafi itu terlalu teoritis untuk dipraktekan.27 Sementara Amin Abdullah, meskipun di satu sisi mengakui perlunya oksidentalisme, namun senada dengan Boullata, juga menilai oksidentalisme masih jauh panggang dari api.28
Satu hal yang menyebabkan oksidentalisme masih saja berupa gaungan ide, dan belum diaplikasikan dalam sebuah bentuk ilmu yang mapan, adalah kenyataan bahwa, berbeda dengan orientalisme yang lahir dari kekuatan dan kekuasaan sehingga kemuidan terbentuk dengan mulus, oksidentalisme diciptakan oleh Timur yang sedang lemah dan kalah, yang sementara hanya mempunyai obsesi besar. Padahal, sebagaimana dinyatakan Foucault,29 pengetahuan selalu berhubungan dengan kekuasaan.
Terlepas dari bagaimana kesan yang kemudian muncul terhadap gagasan oksidentalisme Hanafi, apa yang telah diusahakan Hanafi lewat karya - karyanya itu jelas merupakan pembaruan yang menampilkan sesuatu yang lain, lebih dari sekedar promosi peradaban Barat seperti yang selama ini terjadi. Inilha barangklai yang diinginkan Hanafi: pembongkaran teks, interperensi lain, dan membangun konteks baru yang lebih proporsional.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Blogroll

Selamat Datang

Memberi motivasi lebih sulit dari pada memunculkannya, dan akan lebih sulit lagi memotivasi diri sendiri dari pada memotivasi orang lain. Munculkan motivasi dalam diri selama darah masih mengalir, jantung masih berdetak. Salam manis...

|-ShiJitSuKi-| Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template